Hari ketiga
Jam enam tigapuluh kami sudah berkumpul di kantor bkd.
Ini adalah hari terakhir kami, senang tapi campur sedih juga.
Senang, karena besok kami sudah tak lagi berlelah-lelah seperti kemarin.
Sedih, karena kami sekelompok akan segera berpisah.
Pertemanan instan 2 hari yang lalu ternyata cukup membuat kami dekat n kompak.
Setelah berkumpul kami diberi pengarahan untuk menuju taman kota dengan berjalan kaki melewati gang-gang sempit yaitu jalan pintas terdekat ke taman kota.
Kami berjalan menurut kelompok masing-masing.
Ayah.....itu ayah... tiba-tiba teriakan anak kecil mengagetkan kami.
Tampak seorang anak kecil yang kelihatannya baru bangun tidur melambai-lambaikan tangan ke arah seseorang.
Danton kami, pak yuli terlihat membalas lambaian anak kecil itu, yang ternyata anaknya.
Walah pak... kata teman-teman yang lain, sini to rumahe sampeyan, tak kiro jauh, luar kota. Gerutu seorang teman yang kesal karena ingat keterlambatan danton kami dua hari kemarin.
Bukan itu rumah ortu saya, kata pak yuli.
oh.....
akhirnya sampai juga ke taman kota.
di sana kami langsung dikumpulkan untuk..... bersambung
Rabu, 31 Desember 2008
Minggu, 16 November 2008
HARI II 11 - 11 - 2008
SAMAPTA TUBAN
06.15 sudah banyak peserta yang berkumpul di halaman tengah pemkab Tuban.
Mereka sudah berbaris dan sambil menunggunyang lain datang Pak Bastari dan Pak Pono (salah satu pelatih dari unsur Polri dan TNI) mengajari kami untuk senam poco-poco.
Lumayan juga untuk melemaskan kaki kami yang masih terasa kaku sekali karena latihan kemarin.
06.30 tepat apel pagi dimulai.
Seperti biasa Danton kami, pak yuli, telat lagi, yah maklumlah dia cukup sibuk mengurus sendiri rumahnya karena si istrinya yg baru melahirkan anak kedua mereka
Tapi untunglah para pelatih tak terlalu memperhatikan sehingga kami tak perlu dihukum.
Dan seperti biasa setelah apel pagi kami segera berganti pakaian training
Kali ini tak ada insiden “salah kamar” seperti pada hari pertama
Baju training kami hari selasa itu terasa setengah kering di badan kami
Setelah pulang kemarin kami tak punya cukup waktu untuk benar-benar mengeringkannya
Bayangkan saja, jam 2 siang sampai jam 5 sore kemarin kami berempat ( mbak puji, ana, dwi dan saya: kami berempat satu kos-kosan) berusaha mencuci baju kami yang penuh dengan lumpur
Semua sabun dicoba, mulai deterjen sampai sabun mandi
Kami gantian ngangsu (menimba) air dari sumur ibu kos di daerah Sendangharjo
Sampai ngos-ngosan rasanya
Jadi paginya baju itu setengah kering di badan kami
Tapi baju kami lumayan bersih lho
Banyak peserta lain yang masih tampak kotor oleh noda lumpur merah kemarin
Setelah berkumpul kembali di alun-alun, kami diperintahkan untuk mengelilingi alun-alun kota sebanyak tiga kali, sambil diiming-imingi sepasang korpri emas bagi peserta terbaik nantinya
Sebenarnya saya pingin juga dapat tapi rasanya tidak mungkin kalau jadi nomor satu.
Tapi paling tidak saya mampu menjajal kemampuan fisik saya sampai dimana.
Dua kali putaran saya lalui dengan tanpa berhenti, pak Sukran Amin, pelatih kami ikut berlari mengiringi kami, inilah yang membuat saya bersemangat.
Saya berusaha terus menjejeri beliau
Putaran ketiga saya nyerah, sayapun berjalan kaki
Setelah berkumpul di alun-alun, kami diberi waktu untuk makan snack pagi
Kali ini tangan kami makan dengan tangan yang bersih, hanya badan kami yang penuh dengan keringat
Setelah makan dan minum secukupnya, kami digiring lagi ke tengah lapangan untuk meteri berikutnya.
Materi berikutnya adalah baris-berbaris
Waktu kira-kira menunjukkan pukul 09.30 WIB
Matahari sudah lumayan panas menyoroti kami semua
Setelah perkenalan pembuka dari pelatih kami kemudian diajari materi hadap kanan, hadap kiri, balik kanan, hadap serong kanan, serong kiri, cara hormat bendera yang benar, langkah tegap maju, langkah biasa, bubar barisan dan sebagainya.
Kira-kira dua jam kami dipanggang di bawah terik matahari.
Gosong rasanya ………
Setengah dua belas kami diberi kesempatan untuk istirahat selama kurang lebih satu setengah jam
“Jam satu nanti silakan kalian berkumpul di bawah beringin, di alun-alun sebelah utara,” demikian perintah pelatih kami Pak Pono, “ Petugas BKD (Badan Kepegawaian Daerah) akan membahas rencana outbond besok di taman kota.
Jam satu kami berkumpul di bawah pohon beringin alun-alun utara.
Ah siapa itu...?
Sore-sore ada pemandangan sejuk diantara wajah-wajah kuyu karena kelelahan
Ah, ternyata ada pak bangun, salah satu Kasi di BKD ini memang masih muda dan sealu berpenampilan rapi dan cool.....
Warna orange kaus seragam pelatih cukup mencerahkan mata saya dan temen2 cewek lainnya
Beliau lalu memberikan pengarahan bersama petugas BKD lainnya
Sore itu kami diberi tugas untuk membuat yel-yel kelompok, puisi yang berhubungan dengan lambang kelompok kami, which is singa,dan lagu gubahan sendiri yang harus kami bawakan esok.
06.15 sudah banyak peserta yang berkumpul di halaman tengah pemkab Tuban.
Mereka sudah berbaris dan sambil menunggunyang lain datang Pak Bastari dan Pak Pono (salah satu pelatih dari unsur Polri dan TNI) mengajari kami untuk senam poco-poco.
Lumayan juga untuk melemaskan kaki kami yang masih terasa kaku sekali karena latihan kemarin.
06.30 tepat apel pagi dimulai.
Seperti biasa Danton kami, pak yuli, telat lagi, yah maklumlah dia cukup sibuk mengurus sendiri rumahnya karena si istrinya yg baru melahirkan anak kedua mereka
Tapi untunglah para pelatih tak terlalu memperhatikan sehingga kami tak perlu dihukum.
Dan seperti biasa setelah apel pagi kami segera berganti pakaian training
Kali ini tak ada insiden “salah kamar” seperti pada hari pertama
Baju training kami hari selasa itu terasa setengah kering di badan kami
Setelah pulang kemarin kami tak punya cukup waktu untuk benar-benar mengeringkannya
Bayangkan saja, jam 2 siang sampai jam 5 sore kemarin kami berempat ( mbak puji, ana, dwi dan saya: kami berempat satu kos-kosan) berusaha mencuci baju kami yang penuh dengan lumpur
Semua sabun dicoba, mulai deterjen sampai sabun mandi
Kami gantian ngangsu (menimba) air dari sumur ibu kos di daerah Sendangharjo
Sampai ngos-ngosan rasanya
Jadi paginya baju itu setengah kering di badan kami
Tapi baju kami lumayan bersih lho
Banyak peserta lain yang masih tampak kotor oleh noda lumpur merah kemarin
Setelah berkumpul kembali di alun-alun, kami diperintahkan untuk mengelilingi alun-alun kota sebanyak tiga kali, sambil diiming-imingi sepasang korpri emas bagi peserta terbaik nantinya
Sebenarnya saya pingin juga dapat tapi rasanya tidak mungkin kalau jadi nomor satu.
Tapi paling tidak saya mampu menjajal kemampuan fisik saya sampai dimana.
Dua kali putaran saya lalui dengan tanpa berhenti, pak Sukran Amin, pelatih kami ikut berlari mengiringi kami, inilah yang membuat saya bersemangat.
Saya berusaha terus menjejeri beliau
Putaran ketiga saya nyerah, sayapun berjalan kaki
Setelah berkumpul di alun-alun, kami diberi waktu untuk makan snack pagi
Kali ini tangan kami makan dengan tangan yang bersih, hanya badan kami yang penuh dengan keringat
Setelah makan dan minum secukupnya, kami digiring lagi ke tengah lapangan untuk meteri berikutnya.
Materi berikutnya adalah baris-berbaris
Waktu kira-kira menunjukkan pukul 09.30 WIB
Matahari sudah lumayan panas menyoroti kami semua
Setelah perkenalan pembuka dari pelatih kami kemudian diajari materi hadap kanan, hadap kiri, balik kanan, hadap serong kanan, serong kiri, cara hormat bendera yang benar, langkah tegap maju, langkah biasa, bubar barisan dan sebagainya.
Kira-kira dua jam kami dipanggang di bawah terik matahari.
Gosong rasanya ………
Setengah dua belas kami diberi kesempatan untuk istirahat selama kurang lebih satu setengah jam
“Jam satu nanti silakan kalian berkumpul di bawah beringin, di alun-alun sebelah utara,” demikian perintah pelatih kami Pak Pono, “ Petugas BKD (Badan Kepegawaian Daerah) akan membahas rencana outbond besok di taman kota.
Jam satu kami berkumpul di bawah pohon beringin alun-alun utara.
Ah siapa itu...?
Sore-sore ada pemandangan sejuk diantara wajah-wajah kuyu karena kelelahan
Ah, ternyata ada pak bangun, salah satu Kasi di BKD ini memang masih muda dan sealu berpenampilan rapi dan cool.....
Warna orange kaus seragam pelatih cukup mencerahkan mata saya dan temen2 cewek lainnya
Beliau lalu memberikan pengarahan bersama petugas BKD lainnya
Sore itu kami diberi tugas untuk membuat yel-yel kelompok, puisi yang berhubungan dengan lambang kelompok kami, which is singa,dan lagu gubahan sendiri yang harus kami bawakan esok.
Rabu, 12 November 2008
SAMAPTA TUBAN
Bul gombal gambul gombal gambul,joss joss joss 2 x
We are, you can be 2x
tell them who we are, we are sembrani VI yesss!
Yell,yell di atas adalah yel yel "resmi" Samapta Angkatan VI di kota Tuban
Memang sedikit unik, tapi cukup membuat para peserta gelombang dua bersemangat menjalani semua prosesi yang ada dalam acara tersebut.
Hari I 10-11-2008
Kegiatan kami yg pertama pagi itu adalah apel pagi.
Setiap cpns siap di halaman depan kantor bupati pada pukul 06.30 pagi
Kejutan pertama datang setelah apel pagi.
Kami diperintahkan untuk mengganti pakaian kami dalam waktu lima menit.
“Cari tempat di dalam gedung kantor tidak boleh di luar kantor!” tegas, perintah Pak Agus, ketua Koordinator Sembrani VI
Sontak setelah pasukan dibubarkan ratusan pasang kaki berlarian mencari ruang berlindung untuk mengganti pakaian apel pagi dengan training samapta.
Ada insiden lucu di hari pertama ini.
Seorang peserta laki-laki terjebak di dalam ruangan penuh dengan para wanita yang sama-sama sedang mengganti pakaian.
Usut- punya usut bukan salah si bapak ini.
Sebenarnya si bapak inilah yang pertama kali menemukan ruangan kosong tersebut untuk mengganti pakaian.
Sedangkan wanita-wanita yang lain ikut masuk ke dalam ruangan ini tanpa menyadari kalo si laki-laki “beruntung” ini telah berada di dalam ruangan dan terjebak tak bisa keluar.
“Wah kok wedok kabeh!(wah kok perempuan semua!)” teriak si bapak kaget setengah mati
Yang perempuan pun tak kalah kaget, “ Loh kok ono lanang siji nang kene?!(lo kok ada laki-laki satu di sini)”
“Yo wis pak, kadung, amal-amal(ya udah pak, terlanjur, amal2x)” kata yang lain disambut tawa cekikikan yang lain.
Saya tidak tahu bagaiman perasaan si bapak tadi. Malu, apa senang ya?
Kejutan kedua datang setelah itu.
Semua pasukan diperintahkan untuk berlari menuju lapangan desa Atas Angin Kec. Semanding.
Hari pertama yang sangat berat bagi saya
Saya ingat dulu saya pernah bisa berlari memutari lapangan depan kampus saya sepuluh kali tanpa merasakan lelah yang berarti.
Kemudian saya coba untuk melakukannya lagi kali ini.
Kilometer pertama hampir saja saya lalui dengan mulus, namun sarapan saya yang hanya 3 potong roti kabin isi ragut yang saya buat tadi pagi samasekali tidak mendukung saya.
Mata saya mulai terasa berkunang-kunang.
Seumur hidup saya, saya baru merasakan 1 kali pingsan dan 2 kali hampir pingsan.
Satu kali pingsan, saat saya melahirkan anak saya yang pertama.
Saat saya baru bangun dari tempat tidur untuk mandi pagi, tiba-tiba saja saya hilang kesadaran.
Yang kedua,yaitu saat saya akan mengambil air wudlu untuk sholat shubuh didepan rumah saya.
Tiba-tiba saja mata saya gelap, tapi kesadaran saya masih ada. Saya langsung berbaring di kursi depan dan tak jadi pingsan.
Yang ketiga, ya kemarin ini.
Ketika saya merasakan mata saya yang mulai berkunag-kunang saya langsung duduk di trotoar.
Beberapa peserta yang melihat bertanya, "ada apa bu?"
“Ndak, ndak papa” jawab saya.
Setelah hilang rasa tadi, saya coba untuk berjalan lagi.
Tapi ternyata tidak bisa. Tetap saja rasanya mau pingsan.
Ah, di depan ternyata ada bakul (penjual) nasi pecel lengkap dengan minumannya.
Setelah celingak-celinguk kiri kanan supaya tidak ketahuan pelatih, akhirnya saya putuskan untuk membeli segelas air mineral..
Glek,glek glek, ¾ isi gelas saya kucurkan ke tenggorokan saya.
Seggeeeerrrr…… Mata saya pun segera terang kembali.
Dan sisa perjalanan pun saya lalui dengan berjalan kaki.
Saya ndak mau ngoyo lagi.
Entah berapa kilometer yang saya lalui, untuk saya yang tidak pernah lagi berolahraga, rasanya jaaauuuuhhhh sekali….
Kejutan yang ketiga adalah setelah kami tiba di lapangan Atas Angin
Saat di kantor pemkab memang kami sempat melihat sebuah mobil PMK.
Ternyata mobil itu pun sudah parkir di sana.
Waduh, ngalamat mandi pagi yang kedua nih pikir saya dan teman-teman.
Benar saja, setelah semua pasukan lengkap, kami pun segera dibariskan di atas lapangan berwarna merah itu (Warna tanah di Kota Tuban memang merah)
“Menjadi cpns adalah suatu hal patut kalian syukuri, maka sekarang kami minta kalian bersujud dan mencium tanah air kalian ini” perintah salah seorang pelatih kami.
Hehehe….. kami dikerjai lagi sama para pelatih ini.
“Nunduk! Nunduk yang dalam!” perintah tegas khas militer segera memaksa kami membenamkan muka kami di di atas tanah merah kota Tuak ini.
Tak lama kemudian suara mesin pemompa air dari mobil PMK terdengar menandakan sebentar lagi kami akan mandi untuk kedua kali.
Jroooozzzzzz…… Air bercampur tanah merah segera mengotori baju training yang baru saya dapatkan kemarin.
Tak cukup sampai di sini..
“Sekarang, berbaring sambil bergerak ke belakang! Pergunakan punggung kalian untuk bergerak!” perintah yang seumur-umur baru kami dapat kali ini memaksa kami merayap dg punggung kami.
Walhasil sekitar 180-an bergerak “mengepel” lapangan tanah merah Atas Angin
Haha hihi huhu keluar dari mulut-mulut kami
“ Diam..diam!!!” teriakan galak pelatih segera membungkam mulut kami
“Kalian yang minta jadi gedang goreng (pisang goreng), akan kami turuti!” teriak pelatih “Anda jual, kami beli!” kata-kata pelatih itu menyadarkan kami bahwa saat itu kami tak boleh celometan sembarangan.
Kami saat itu memang dilatih untuk berdisiplin ala militer.
Tak pelak salah sedikit saja, fatal akibatnya bagi kami.
Setelah puas mandi “Lumpur merah” kami menerima snack pagi berupa roti kukus dan pukis serta segelas air mineral.
Tangan kami masih berwarna merah saat makan snack itu.
Ah, tak ada lagi yang peduli tangan kami kotor atau bersih, semuanya makan dengan sangat lahap.
Setelah menghabiskan snack, kami pun diajak untuk membersihkan badan kami di pemandian Bektiharjo yang jaraknya kurang lebih 4 km dari lapangan tadi.
Jalan naik turun kami lalui dengan penuh semangat.
Saat itu saya sudah kuat untuk berlari lagi.
Mungkin snack manis tadi memberi badan saya cukup tenaga untuk berlari lagi
Peleton kami dipimpin oleh Bapak Sukran Amin
Seorang tentara yang sangat bersahaja.
Sabar, murah senyum, tegas namun lemah lembut dalam menyemangati kami saat itu.
Sepanjang perjalanan beliau mengajak kami untuk menyanyikan mars samapta kami sehingga tak terasa sampailah kami ke tempat pemandian Bektiharjo.
Kami datang sebagai rombongan yg pertama.
Warna air kolam yg jernih sangat mengundang kami untuk segera menceburkan diri.
Byur-byur-byur, satu per satu kami meloncat masuk.
Keruan saja warna jernih kolam berubah menjadi merah kotor
Kami saling menggosok baju kami dg serbet yg kami bawa sebelumnya
Sekeras apapun kami menggosok, lumpur merah itu tak kunjung hilang juga
Ya sudah, akhirnya kami keluar dari kolam untuk mengeringkan badan kami
Setelah berhenti sejenak, kami kembali bertanya-tanya, kalau disuruh kembali lagi ke kota sambil berlari jelas kami sudah tak sanggup lagi
Dari bisik-bisik teman-teman yang lain saya dengar kalau akan ada alat transpor nantinya
Alat transpor apa ya, pikir saya
Saya mencoba melihat sekeliling saya
Tak ada truk atau alat transpor lain, kecuali.....
Dua truk sampah yang parkir sedari tadi
Alamak...!
Lengkap sudah penderitaan kami pagi itu.
Akhirnya kami kembali ke kota dengan menaiki truk sampah milik pemkab.
Nasib...Nasib...
Di atas truk saya sempat ngobrol dengan Danton (komandan peleton kami)pak Yuli
Bapak yang satu ini juga unik (umurnya satu tahun di atas saya)
Dia punya kebiasaan selama masa samapta ini
Dia selalu menjadi yang terakhir setiap kami berkumpul
Semua ketir-ketir setiap apel pagi, karena saat semua sudah datang, tinggal dia sendiri yang belum
Ternyata istrinya baru saja melahirkan tanggal 9 kemarinnya.
Bisa dibayangkan kerepotannya di rumah
Nyuci, mandiin anak ( satunya sudah TK), ngurus istri yang tentu saja masih belum kuat apa-apa
Oalah pak, pak, cek repote sampeyan pikir saya
Setelah hampir 10 menit menahan bau sampah truk itu (walaupun truknya sudah dibersihkan, tetap saja bau sampah!) akhirnya sampai juga kami di alun-alun kota.
Kemudian kami diperbolehkan untuk beristirahat dan makan siang selama hampir 1 jam lamanya.
Badan yang basah kuyup dan rasa lelah yang amat sangat memaksa kami untuk tidur-tiduran di pinggiran alun-alun
Sudah tidak ada yang peduli lagi, semua sama BAU AND KOTOR plus keleleran di mana-mana ( tapi lucu juga )
bersambung.....
We are, you can be 2x
tell them who we are, we are sembrani VI yesss!
Yell,yell di atas adalah yel yel "resmi" Samapta Angkatan VI di kota Tuban
Memang sedikit unik, tapi cukup membuat para peserta gelombang dua bersemangat menjalani semua prosesi yang ada dalam acara tersebut.
Hari I 10-11-2008
Kegiatan kami yg pertama pagi itu adalah apel pagi.
Setiap cpns siap di halaman depan kantor bupati pada pukul 06.30 pagi
Kejutan pertama datang setelah apel pagi.
Kami diperintahkan untuk mengganti pakaian kami dalam waktu lima menit.
“Cari tempat di dalam gedung kantor tidak boleh di luar kantor!” tegas, perintah Pak Agus, ketua Koordinator Sembrani VI
Sontak setelah pasukan dibubarkan ratusan pasang kaki berlarian mencari ruang berlindung untuk mengganti pakaian apel pagi dengan training samapta.
Ada insiden lucu di hari pertama ini.
Seorang peserta laki-laki terjebak di dalam ruangan penuh dengan para wanita yang sama-sama sedang mengganti pakaian.
Usut- punya usut bukan salah si bapak ini.
Sebenarnya si bapak inilah yang pertama kali menemukan ruangan kosong tersebut untuk mengganti pakaian.
Sedangkan wanita-wanita yang lain ikut masuk ke dalam ruangan ini tanpa menyadari kalo si laki-laki “beruntung” ini telah berada di dalam ruangan dan terjebak tak bisa keluar.
“Wah kok wedok kabeh!(wah kok perempuan semua!)” teriak si bapak kaget setengah mati
Yang perempuan pun tak kalah kaget, “ Loh kok ono lanang siji nang kene?!(lo kok ada laki-laki satu di sini)”
“Yo wis pak, kadung, amal-amal(ya udah pak, terlanjur, amal2x)” kata yang lain disambut tawa cekikikan yang lain.
Saya tidak tahu bagaiman perasaan si bapak tadi. Malu, apa senang ya?
Kejutan kedua datang setelah itu.
Semua pasukan diperintahkan untuk berlari menuju lapangan desa Atas Angin Kec. Semanding.
Hari pertama yang sangat berat bagi saya
Saya ingat dulu saya pernah bisa berlari memutari lapangan depan kampus saya sepuluh kali tanpa merasakan lelah yang berarti.
Kemudian saya coba untuk melakukannya lagi kali ini.
Kilometer pertama hampir saja saya lalui dengan mulus, namun sarapan saya yang hanya 3 potong roti kabin isi ragut yang saya buat tadi pagi samasekali tidak mendukung saya.
Mata saya mulai terasa berkunang-kunang.
Seumur hidup saya, saya baru merasakan 1 kali pingsan dan 2 kali hampir pingsan.
Satu kali pingsan, saat saya melahirkan anak saya yang pertama.
Saat saya baru bangun dari tempat tidur untuk mandi pagi, tiba-tiba saja saya hilang kesadaran.
Yang kedua,yaitu saat saya akan mengambil air wudlu untuk sholat shubuh didepan rumah saya.
Tiba-tiba saja mata saya gelap, tapi kesadaran saya masih ada. Saya langsung berbaring di kursi depan dan tak jadi pingsan.
Yang ketiga, ya kemarin ini.
Ketika saya merasakan mata saya yang mulai berkunag-kunang saya langsung duduk di trotoar.
Beberapa peserta yang melihat bertanya, "ada apa bu?"
“Ndak, ndak papa” jawab saya.
Setelah hilang rasa tadi, saya coba untuk berjalan lagi.
Tapi ternyata tidak bisa. Tetap saja rasanya mau pingsan.
Ah, di depan ternyata ada bakul (penjual) nasi pecel lengkap dengan minumannya.
Setelah celingak-celinguk kiri kanan supaya tidak ketahuan pelatih, akhirnya saya putuskan untuk membeli segelas air mineral..
Glek,glek glek, ¾ isi gelas saya kucurkan ke tenggorokan saya.
Seggeeeerrrr…… Mata saya pun segera terang kembali.
Dan sisa perjalanan pun saya lalui dengan berjalan kaki.
Saya ndak mau ngoyo lagi.
Entah berapa kilometer yang saya lalui, untuk saya yang tidak pernah lagi berolahraga, rasanya jaaauuuuhhhh sekali….
Kejutan yang ketiga adalah setelah kami tiba di lapangan Atas Angin
Saat di kantor pemkab memang kami sempat melihat sebuah mobil PMK.
Ternyata mobil itu pun sudah parkir di sana.
Waduh, ngalamat mandi pagi yang kedua nih pikir saya dan teman-teman.
Benar saja, setelah semua pasukan lengkap, kami pun segera dibariskan di atas lapangan berwarna merah itu (Warna tanah di Kota Tuban memang merah)
“Menjadi cpns adalah suatu hal patut kalian syukuri, maka sekarang kami minta kalian bersujud dan mencium tanah air kalian ini” perintah salah seorang pelatih kami.
Hehehe….. kami dikerjai lagi sama para pelatih ini.
“Nunduk! Nunduk yang dalam!” perintah tegas khas militer segera memaksa kami membenamkan muka kami di di atas tanah merah kota Tuak ini.
Tak lama kemudian suara mesin pemompa air dari mobil PMK terdengar menandakan sebentar lagi kami akan mandi untuk kedua kali.
Jroooozzzzzz…… Air bercampur tanah merah segera mengotori baju training yang baru saya dapatkan kemarin.
Tak cukup sampai di sini..
“Sekarang, berbaring sambil bergerak ke belakang! Pergunakan punggung kalian untuk bergerak!” perintah yang seumur-umur baru kami dapat kali ini memaksa kami merayap dg punggung kami.
Walhasil sekitar 180-an bergerak “mengepel” lapangan tanah merah Atas Angin
Haha hihi huhu keluar dari mulut-mulut kami
“ Diam..diam!!!” teriakan galak pelatih segera membungkam mulut kami
“Kalian yang minta jadi gedang goreng (pisang goreng), akan kami turuti!” teriak pelatih “Anda jual, kami beli!” kata-kata pelatih itu menyadarkan kami bahwa saat itu kami tak boleh celometan sembarangan.
Kami saat itu memang dilatih untuk berdisiplin ala militer.
Tak pelak salah sedikit saja, fatal akibatnya bagi kami.
Setelah puas mandi “Lumpur merah” kami menerima snack pagi berupa roti kukus dan pukis serta segelas air mineral.
Tangan kami masih berwarna merah saat makan snack itu.
Ah, tak ada lagi yang peduli tangan kami kotor atau bersih, semuanya makan dengan sangat lahap.
Setelah menghabiskan snack, kami pun diajak untuk membersihkan badan kami di pemandian Bektiharjo yang jaraknya kurang lebih 4 km dari lapangan tadi.
Jalan naik turun kami lalui dengan penuh semangat.
Saat itu saya sudah kuat untuk berlari lagi.
Mungkin snack manis tadi memberi badan saya cukup tenaga untuk berlari lagi
Peleton kami dipimpin oleh Bapak Sukran Amin
Seorang tentara yang sangat bersahaja.
Sabar, murah senyum, tegas namun lemah lembut dalam menyemangati kami saat itu.
Sepanjang perjalanan beliau mengajak kami untuk menyanyikan mars samapta kami sehingga tak terasa sampailah kami ke tempat pemandian Bektiharjo.
Kami datang sebagai rombongan yg pertama.
Warna air kolam yg jernih sangat mengundang kami untuk segera menceburkan diri.
Byur-byur-byur, satu per satu kami meloncat masuk.
Keruan saja warna jernih kolam berubah menjadi merah kotor
Kami saling menggosok baju kami dg serbet yg kami bawa sebelumnya
Sekeras apapun kami menggosok, lumpur merah itu tak kunjung hilang juga
Ya sudah, akhirnya kami keluar dari kolam untuk mengeringkan badan kami
Setelah berhenti sejenak, kami kembali bertanya-tanya, kalau disuruh kembali lagi ke kota sambil berlari jelas kami sudah tak sanggup lagi
Dari bisik-bisik teman-teman yang lain saya dengar kalau akan ada alat transpor nantinya
Alat transpor apa ya, pikir saya
Saya mencoba melihat sekeliling saya
Tak ada truk atau alat transpor lain, kecuali.....
Dua truk sampah yang parkir sedari tadi
Alamak...!
Lengkap sudah penderitaan kami pagi itu.
Akhirnya kami kembali ke kota dengan menaiki truk sampah milik pemkab.
Nasib...Nasib...
Di atas truk saya sempat ngobrol dengan Danton (komandan peleton kami)pak Yuli
Bapak yang satu ini juga unik (umurnya satu tahun di atas saya)
Dia punya kebiasaan selama masa samapta ini
Dia selalu menjadi yang terakhir setiap kami berkumpul
Semua ketir-ketir setiap apel pagi, karena saat semua sudah datang, tinggal dia sendiri yang belum
Ternyata istrinya baru saja melahirkan tanggal 9 kemarinnya.
Bisa dibayangkan kerepotannya di rumah
Nyuci, mandiin anak ( satunya sudah TK), ngurus istri yang tentu saja masih belum kuat apa-apa
Oalah pak, pak, cek repote sampeyan pikir saya
Setelah hampir 10 menit menahan bau sampah truk itu (walaupun truknya sudah dibersihkan, tetap saja bau sampah!) akhirnya sampai juga kami di alun-alun kota.
Kemudian kami diperbolehkan untuk beristirahat dan makan siang selama hampir 1 jam lamanya.
Badan yang basah kuyup dan rasa lelah yang amat sangat memaksa kami untuk tidur-tiduran di pinggiran alun-alun
Sudah tidak ada yang peduli lagi, semua sama BAU AND KOTOR plus keleleran di mana-mana ( tapi lucu juga )
bersambung.....
Senin, 03 November 2008
Langganan:
Postingan (Atom)